Ikuti Kami :

Disarankan:

Penyambung Lidah Petani di Kota Banjar

Rabu, 03 September 2025 | 11:44 WIB
Watermark
Penyambung Lidah Petani di Kota Banjar. Foto: NewsTasikmalaya.com/Martin

Setiap 24 September, Hari Tani Nasional diperingati. Namun, makna peringatan itu perlahan memudar. Padahal, sejarahnya bukan sekadar seremoni. Ia adalah simbol pembebasan petani dari ketertindasan kolonial, ketika UU Agraria 1960 memberi hak atas tanah kepada mereka yang selama ini hanya menjadi buruh di ladang orang lain.

BANJAR, NewsTasikmalaya.com – Tan Malaka pernah menulis dalam Madilog, 

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan terlalu pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.”

Ungkapan itu, meski ditulis puluhan tahun lalu, masih relevan di Kota Banjar hari ini. Setiap 24 September, Hari Tani Nasional diperingati. Namun, makna peringatan itu perlahan memudar. Padahal, sejarahnya bukan sekadar seremoni. Ia adalah simbol pembebasan petani dari ketertindasan kolonial, ketika UU Agraria 1960 memberi hak atas tanah kepada mereka yang selama ini hanya menjadi buruh di ladang orang lain.

Kini, di tengah modernisasi dan urbanisasi, profesi petani justru makin ditinggalkan. Generasi muda berbondong-bondong meninggalkan desa, mengejar mimpi di kota, serta meninggalkan ladang yang dulu menjadi sumber kehidupan keluarga.

Di tengah arus itu, sekelompok anak muda di Banjar memilih jalan berbeda. Mereka menamakan diri Petani Milenial Kota Banjar. Tahun ini, mereka menyambut Hari Tani Nasional bukan dengan tuntutan, melainkan melalui kolaborasi.

“Kami ingin menunjukkan bahwa generasi muda bisa menjadi bagian dari solusi, bukan hanya pengamat,” ujar Ketua Petani Milenial Kota Banjar, Ramdhani Bin Rasikun, Rabu (3/9/2025).

Bersama Pemerintah Kota dan Polres Banjar, mereka membangun sinergi untuk pertanian berkelanjutan, dengan fokus pada:

1. Pertanian organik berbasis ekonomi kerakyatan

2. Pelatihan dan pendidikan pertanian

3. Akses permodalan

4. Teknologi ramah lingkungan

Ramdhani menyadari, profesi petani kerap dianggap tidak menjanjikan. Bahkan, banyak orang tua petani melarang anaknya mengikuti jejak mereka.

“Petani dianggap tua, kotor, dan tidak menguntungkan. Padahal, di desa masih banyak lahan yang bisa digarap,” katanya.

Hal ini menurutnya merupakan ancaman serius. Jika tidak ada regenerasi, siapa yang akan menggantikan para petani yang sudah menua?

“Kita sedang menghadapi krisis alih generasi petani. Ini bukan isu lokal, tapi ancaman nasional,” tegasnya.

Ramdhani menekankan, solusi tidak bisa instan. Ia mengusulkan agar pendidikan pertanian berbasis teknologi dimasukkan ke dalam kurikulum sejak SD, SMP, SMA, bahkan pesantren.

“Petani bisa cerdas, modern, dan sejahtera. Tapi itu harus dikenalkan sejak kecil,” ujarnya.

Kini, dengan semangat kolaborasi dan dukungan lintas sektor, Petani Milenial Kota Banjar menyalakan harapan di tengah tantangan. Mereka bukan hanya bertani, tetapi juga membangun narasi baru: bahwa bertani adalah pilihan masa depan.

“Mari kita selamatkan negeri dengan menjadi petani. Salam pertanian, salam dari petani milenial Banjar,” pungkas Ramdhani.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement