Ikuti Kami :

Disarankan:

Apresiasi Karya Bode Riswandi, Diky Candra Sebut Teater Jantur di Unsil Kelas Internasional

Selasa, 17 Maret 2026 | 01:39 WIB
Apresiasi Karya Bode Riswandi, Diky Candra Sebut Teater Jantur di Unsil Kelas Internasional
Apresiasi Karya Bode Riswandi, Diky Candra Sebut Teater Jantur di Unsil Kelas Internasional.

Pelataran parkir Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Siliwangi (Unsil) berubah menjadi panggung seni yang megah pada Sabtu (14/3/2026) malam. Pertunjukan teater bertajuk "Jantur Art Based Research" karya seniman Bode Riswandi sukses digelar dan menyedot perhatian ratusan pasang mata.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Pelataran parkir Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Siliwangi (Unsil) berubah menjadi panggung seni yang megah pada Sabtu (14/3/2026) malam. Pertunjukan teater bertajuk "Jantur Art Based Research" karya seniman Bode Riswandi sukses digelar dan menyedot perhatian ratusan pasang mata.

Pergelaran yang spektakuler ini turut dihadiri oleh Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, bersama Kepala Disporabudpar Kota Tasikmalaya yang nampak antusias menyaksikan jalannya acara hingga usai.

Diky Candra, yang juga dikenal sebagai aktor kawakan, memberikan apresiasi tinggi terhadap karya milik pria yang memiliki nama asli Budi Riswandi tersebut.

Menurutnya, pertunjukan teater ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki konsep yang sangat matang dan komplit. Ia menilai penyajian visual dan alur ceritanya memiliki kualitas setara layar lebar yang mampu memancing rasa penasaran penonton sejak menit pertama.

"Tampilan yang disuguhkan dalam pertunjukan teater ini sangat komplit. Untuk membuat sebuah karya seperti ini tentu dramanya kuat. Secara keseluruhan, pagelaran seni ini sangat luar biasa dan bukan kelas lokal. Di awal saja adegannya mampu membuat orang bertanya-tanya ada apa ini, lalu tiba-tiba masuk ke inti cerita," ujar Diky saat memberikan tanggapannya pada Senin (16/3/2026) malam.

Lebih jauh, Diky menyoroti pesan mendalam yang terselip dalam alur cerita Jantur. Ia menilai karya ini sangat relevan dengan realitas kehidupan masyarakat saat ini, terutama terkait isu pembangunan yang sering kali mengabaikan aspek kemanusiaan.

Pesan filosofis mengenai pentingnya memiliki sikap khusnudzon (berprasangka baik) serta menjadi sosok yang "pintar merasa" daripada "merasa pintar" menjadi poin utama yang ia garis bawahi.

Diky menyentil fenomena modern di mana pembangunan dan peningkatan ekonomi terus digenjot tanpa memikirkan dampak terhadap alam, budaya, dan kultur masyarakat. Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak mengorbankan nilai-nilai adat, lingkungan, dan keseimbangan hidup. 

"Ini yang dibutuhkan kita semua, orang-orang yang pintar merasa. Yang tetap memikirkan pertumbuhan ekonomi tanpa harus menghilangkan fungsinya," tandas Diky.

Pergelaran ini menjadi bukti bahwa ekosistem kesenian di Kota Tasikmalaya tetap hidup dan mampu melahirkan karya-karya kritis yang menggugah kesadaran publik melalui medium teater.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement