Ikuti Kami :

Disarankan:

Belajar dari Mereka: Saat ODGJ Yayasan Mentari Hati Tasikmalaya Bersihkan Sampah yang Dibuang Orang Waras di TPS Liar

Rabu, 17 Desember 2025 | 14:12 WIB
Belajar dari Mereka: Saat ODGJ Yayasan Mentari Hati Tasikmalaya Bersihkan Sampah yang Dibuang Orang Waras di TPS Liar
Belajar dari Mereka: Saat ODGJ Yayasan Mentari Hati Tasikmalaya Bersihkan Sampah yang Dibuang Orang Waras di TPS Liar. Foto: Tian K.

Jalan Letjen Mashudi hingga Brigjen Sutoko di Kota Tasikmalaya tampak berbeda, Rabu (17/12/2025). Di tengah tumpukan sampah yang menggunung di sejumlah TPS liar, lima orang memungut satu per satu plastik, sisa makanan, dan ranting kering. Mereka tersenyum, bercanda ringan, dan bekerja tanpa keluh. Ironisnya, kelima orang itu adalah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com - Jalan Letjen Mashudi hingga Brigjen Sutoko di Kota Tasikmalaya tampak berbeda, Rabu (17/12/2025). Di tengah tumpukan sampah yang menggunung di sejumlah TPS liar, lima orang memungut satu per satu plastik, sisa makanan, dan ranting kering. Mereka tersenyum, bercanda ringan, dan bekerja tanpa keluh. Ironisnya, kelima orang itu adalah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Mereka merupakan warga binaan Yayasan Mentari Hati Kota Tasikmalaya, yang pagi itu kembali turun ke jalan untuk membersihkan sampah yang sebagian besar dibuang oleh mereka yang secara mental disebut “normal”.

Dengan mengenakan sepatu bot, sarung tangan, dan topi pelindung, para ODGJ itu menyusuri jalan, mengais sampah dari trotoar dan pinggir drainase. Aksi tersebut bukan sekadar bersih-bersih lingkungan, melainkan terapi jiwa, mental, dan sosial.

Kegiatan ini digelar berkolaborasi dengan STPL Bekasi Kementerian Sosial RI, Dinas Sosial, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Kesehatan, serta Karang Taruna Kota Tasikmalaya.

Ketua Yayasan Mentari Hati, Dadang Heryadi, menyebut program ini sejatinya sudah berjalan sejak 2020, tetapi sempat terhenti akibat pandemi Covid-19.

“Alhamdulillah sekarang kembali berjalan. Ini sudah hari ketujuh. Dua hari sekali kami turun ke lapangan. Awalnya di Letjen Mashudi dan Sewaka, sekarang diperluas sampai jalur Cikurubuk,” ujar Dadang.

Menurutnya, aktivitas di luar ruangan justru mempercepat proses pemulihan ODGJ. Terlalu lama diam di ruangan tertutup, kata Dadang, justru memperlambat kesembuhan.

“Kelihatan mereka ceria. Di yayasan ada terapi musik, bercocok tanam, dan sekarang peduli sampah, peduli lingkungan. Banyak yang ternyata jago nyanyi juga,” katanya sambil tersenyum.

Saat ini, Yayasan Mentari Hati menangani sekitar 258 ODGJ. Namun, tidak semuanya siap diterjunkan ke lapangan. Hanya mereka yang telah mencapai tingkat pemulihan di atas 60 persen yang dilibatkan dalam aksi bersih-bersih.

Di balik kesederhanaan aksi itu, terselip pesan yang cukup menampar kesadaran publik. Dadang bahkan tak ragu menyebut kegiatan ini sebagai cermin sosial.

“Masa enggak malu sama ODGJ? ODGJ saja sudah peduli sama sampah. Orang waras harusnya bisa lebih baik. Di yayasan kami ada slogan: ada waktunya kita belajar dari orang gila, ketika orang waras tidak bisa memberi contoh yang baik,” tegasnya.

Kepala Dinas Sosial Kota Tasikmalaya, Budi Rachman, menilai kegiatan ini sebagai bentuk terapi komprehensif bagi ODGJ.

“Ini terapi olah jiwa, olah pikir, olah mental, sekaligus olahraga. Tujuannya ‘nge-brainwash’ kemampuan berpikir sobat jiwa agar bisa kembali hidup selayaknya kita,” kata Budi.

Dalam pelaksanaannya, para peserta dibekali peralatan lengkap, mulai dari sepatu bot, sarung tangan, cangkul, hingga sekop. Seluruh kebutuhan didukung oleh STPL Bekasi Kemensos RI dan perangkat daerah terkait.

Sementara itu, Kabid Pengelolaan Sampah DLH Kota Tasikmalaya, Feri Arif Maulana, mengakui bahwa Jalan Brigjen Sutoko memang kerap menjadi lokasi pembuangan sampah ilegal.

“Ini bukan TPS. Kami sudah berkali-kali bersihkan, pasang spanduk larangan, sosialisasi, tapi masih saja dibuang. Padahal armada kami rutin lewat,” ungkap Feri.

Ia mengimbau warga agar membuang sampah ke lokasi resmi, seperti Pasar Cikurubuk, yang telah dilengkapi kontainer.

Di tengah bau menyengat dan tumpukan sampah, para ODGJ itu tetap bekerja tanpa mengeluh. Mereka mungkin menyandang label gangguan jiwa, tetapi pagi itu, justru merekalah yang memberi pelajaran paling waras, tentang kepedulian, tanggung jawab, dan rasa malu terhadap lingkungan.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement