TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya sebuah video berdurasi 1 menit 29 detik yang memperlihatkan delapan orang pria asal Tasikmalaya diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kamboja. Dalam rekaman tersebut, para korban tampak memohon bantuan kepada Presiden Prabowo Subianto dan jajaran pejabat tinggi lainnya agar segera dipulangkan ke Indonesia.
Awalnya, para pria yang berasal dari Kabupaten dan Kota Tasikmalaya ini dijanjikan pekerjaan legal sebagai staf pemasaran produk laptop dengan iming-iming gaji besar. Namun, setibanya di Kamboja, kenyataan pahit harus mereka telan. Mereka dipaksa bekerja sebagai operator di server judi online untuk menipu sesama warga negara Indonesia.
"Kami memohon bantuan Bapak Presiden, Kapolri, Gubernur Jawa Barat, hingga Wali Kota dan Bupati Tasikmalaya. Kami ingin segera pulang, bekal kami sudah habis," ujar salah satu perwakilan korban dalam video tersebut.
Meski telah berkomunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kamboja, proses pemulangan mereka dikabarkan masih tertahan oleh prosedur administratif.
Kepala Desa Cikupa, Kecamatan Karangnunggal, Yudha Heryadhi, mengatakan bahwa mayoritas pria dalam video tersebut adalah warganya. Berdasarkan pendataan, dari delapan orang tersebut, lima orang merupakan warga Desa Cikupa, dua orang warga Kecamatan Bojongasih, dan satu orang warga Indihiang, Kota Tasikmalaya.
"Pihak desa sudah bertindak dan melaporkan kejadian ini ke Dinas Tenaga Kerja, Polres, Kesbangpol, hingga Dinas Sosial bersama Pak Camat," ujar Yudha saat dikonfirmasi NewsTasikmalaya.com, pada Kamis (25/12/2025).
Yudha menduga kuat bahwa pemberangkatan kedelapan warga tersebut dilakukan melalui agen ilegal. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa tidak ada satu pun korban yang melapor ke pihak desa sebelum berangkat ke luar negeri sekitar dua bulan lalu.
"Saya menduga ini agen ilegal karena tidak ada laporan ke desa. Bahkan saat berangkat, mereka menggunakan visa kunjungan wisata, bukan visa kerja," jelas Yudha.
Selain itu, ditemukan adanya ketidakjujuran informasi dari para korban kepada pihak keluarga. Kepada orang tua, mereka mengaku akan bekerja di pabrik plastik, tetapi kenyataannya terjebak di industri judi online.
Pemerintah Desa Cikupa telah mengumpulkan pihak keluarga korban pada Rabu siang untuk melakukan klarifikasi dan pendalaman terkait kronologi keberangkatan mereka. Hingga saat ini, pihak otoritas terkait masih terus berkoordinasi untuk mencari jalan keluar bagi pemulangan kedelapan warga Tasikmalaya tersebut dari Kamboja.