TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com - Komunitas film, influencer, praktisi perfilman, dan kalangan muda di Tasikmalaya menggelar diskusi seputar produksi film pendek berbasis budaya, Jumat (19/9/2025). Agenda ini bertujuan meningkatkan kompetensi sineas muda sekaligus mendorong kreativitas agar karya mereka lebih dekat dengan kearifan lokal.
Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, yang hadir dalam kegiatan di Hotel Harmoni Kota Tasikmalaya, menekankan pentingnya sensor mandiri dan relevansi film dengan budaya setempat.
“Ada tujuan, konteks utamanya mengenai sensor mandiri dikaitkan dengan perfilman berbasis budaya,” ujar Ferdiansyah.
Ia menilai, karya film dengan latar budaya masih jarang diproduksi di Tasikmalaya. Karena itu, ia mendorong peserta untuk menjadikan situs cagar budaya maupun tradisi lokal sebagai inspirasi.
“Kenapa kita lakukan, karena masih jarang di Tasikmalaya, khususnya yang mengangkat film berbasis budaya. Nah, oleh karena itu kami menghimbau dan mengajak beberapa peserta untuk lokasi Cagar Budaya di Tasikmalaya dijadikan lokasi syuting,” sambungnya.
Tradisi seperti Ngubek Balong disebut bisa menjadi tema film pendek yang segar dan bernilai edukasi. Menurutnya, budaya yang diangkat ke layar justru memperkuat identitas daerah.
“Supaya apa, budaya atau kearifan lokal bisa terangkat,” katanya.
Ferdiansyah juga menegaskan siap memberi dukungan melalui alokasi anggaran APBN, meski jumlahnya terbatas.
“Memang tidak terlalu banyak tapi ada anggarannya. Di Tasikmalaya ada komunitas film. Budaya atau Cagar Budaya bisa diangkat dan jika itu menarik jalan cerita dan skenarionya, baik dokumenter maupun film pendek lainnya, kami bantu melalui stimulus APBN. Tapi bukan berarti semuanya biaya dibantu dari APBN,” ujarnya.
Ia berharap stimulus tersebut mampu melahirkan lebih banyak komunitas film yang konsisten menggarap tema budaya. Potensi pasar menurutnya cukup besar, mengingat jumlah penduduk di Garut dan Tasikmalaya mencapai lebih dari 5 juta jiwa.
“Contoh kalau wilayah Garut, Tasikmalaya Kabupaten dan Kota Tasikmalaya 5,7 juta jiwa, kita anggap 20 persen bisa tembus 1 juta yang punya potensi,” ucapnya.
Selain sebagai ruang ekspresi, film pendek juga disebut penting sebagai laboratorium menuju film layar lebar.
“Sekali lagi film pendek bukan film layar lebar. Ketika membludak, tidak tertutup kemungkinan juga cari jalan menjadikan film layar lebar. Kenapa diawali dengan film pendek, karena dari segi biaya tidak terlalu mahal. Tapi film layar lebar biayanya cukup besar,” jelasnya.
Ferdiansyah pun membuka peluang untuk kembali menggelar Festival Film Pendek Jawa Barat pada 2027 dengan fokus budaya sebagai tema utama. Menurutnya, festival ini akan menjadi kawah candradimuka bagi para sineas di wilayah Priangan Timur.
“Kenapa berbasis budaya, karena mitra kami adalah Kementerian Kebudayaan. Tidak mungkin kita bantu di luar konteks kebudayaan, sarananya adalah perfilman,” pungkasnya.