PANGANDARAN, NewsTasikmalaya.com – Inovasi luar biasa datang dari para dosen Universitas Bakti Tunas Husada (BTH) Tasikmalaya. Melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), tim dosen BTH berhasil menerapkan teknologi pengering buatan (hybrid solar dryer) untuk meningkatkan produktivitas produksi kerupuk rumput laut di Desa Bagolo, Kabupaten Pangandaran.
Kegiatan yang digelar pada Senin (6/10/2025) ini diketuai oleh Hadi Yusuf Faturochman, ST., M.Si, dengan anggota tim Pandu Legawa Ismaya, ST., M.Si, dan Sudianto, M.Kom, serta melibatkan mahasiswa dari Program Studi Teknologi Pangan dan Bisnis Digital, yakni Nirmala, Suci, Nursafa, dan M. Fuzi.
Program ini merupakan bagian dari Hibah PPM Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun 2025, yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Dalam kegiatan tersebut, Hadi Yusuf dan tim memperkenalkan alat pengering buatan bertipe hybrid solar dryer yang memadukan dua sistem sekaligus, yaitu pengeringan berbasis energi surya dan pengeringan artifisial menggunakan sumber energi tambahan.
“Teknologi ini kami rancang untuk membantu pelaku UMKM mengatasi kendala proses pengeringan rumput laut yang selama ini sangat tergantung pada sinar matahari,” ujar Hadi saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Selasa (7/10/2025).
Ia menambahkan, metode hybrid ini mampu menjaga kualitas produk, mempercepat waktu pengeringan, serta memastikan proses tetap berjalan meski kondisi cuaca tidak menentu.
Penerapan teknologi dilakukan bersama UMKM Winanaz, yang diketuai oleh Dian Haryani, dengan melibatkan 11 anggota aktif. Dalam kegiatan tersebut, para peserta mengikuti serangkaian tahapan mulai dari sosialisasi, pelatihan, pendampingan, hingga penerapan langsung alat pengering buatan.
“Dengan alat pengering ini, proses produksi menjadi jauh lebih efisien dan kapasitas meningkat signifikan. Jika sebelumnya pengeringan bisa memakan waktu beberapa hari, kini hanya membutuhkan sekitar 4–5 jam,” jelas Hadi.
Ketua UMKM Winanaz, Dian Haryani, menyampaikan apresiasinya atas dukungan dari Universitas BTH Tasikmalaya. “Kami sangat berterima kasih. Kehadiran teknologi pengering ini membuat usaha kami lebih produktif, kualitas kerupuk rumput laut meningkat, dan kami bisa memenuhi permintaan pasar dengan lebih baik,” ungkapnya.
Hadi berharap, inovasi yang dikembangkan timnya bisa menjadi solusi nyata bagi pelaku UMKM pengolah rumput laut di Pangandaran dan sekitarnya. “Selain meningkatkan produktivitas, teknologi ini diharapkan dapat memperkuat daya saing produk lokal serta berkontribusi terhadap perekonomian masyarakat pesisir,” tutupnya.