Ikuti Kami :

Disarankan:

Gerakan Leuweung Hejo Kembali Digelar di Kota Banjar, Perkuat Mitigasi Bencana dan Pelestarian Budaya

Jumat, 23 Januari 2026 | 17:50 WIB
Gerakan Leuweung Hejo Kembali Digelar di Kota Banjar, Perkuat Mitigasi Bencana dan Pelestarian Budaya
Gerakan Leuweung Hejo Kembali Digelar di Kota Banjar, Perkuat Mitigasi Bencana dan Pelestarian Budaya. Foto: Budiana Martin.

Masyarakat Kota Banjar kembali menggelar Gerakan Leuweung Hejo bertema “Hutan Lestari, Masyarakat Sejahtera” di kawasan Hutan Cagar Budaya Situs Singa Prabangsa, Kota Banjar, Jumat (23/1/2026). Kegiatan ini menjadi ikhtiar bersama dalam menjaga sumber air sekaligus memperkuat upaya mitigasi bencana di kawasan perkotaan.

BANJAR, NewsTasikmalaya.com - Masyarakat Kota Banjar kembali menggelar Gerakan Leuweung Hejo bertema “Hutan Lestari, Masyarakat Sejahtera” di kawasan Hutan Cagar Budaya Situs Singa Prabangsa, Kota Banjar, Jumat (23/1/2026). Kegiatan ini menjadi ikhtiar bersama dalam menjaga sumber air sekaligus memperkuat upaya mitigasi bencana di kawasan perkotaan.

Kepala Cabang Kehutanan Wilayah VII Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Cucu Adriyawan Noor, menegaskan bahwa penanaman pohon di kawasan situs budaya tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan investasi lingkungan jangka panjang bagi masyarakat.

“Hari ini kami menanam sekitar 100 pohon, mulai dari manglid, apuket, picung, palem, hingga jambai. Ini bukan hanya soal menanam pohon, tapi menanam harapan agar sumber air masyarakat tetap terjaga,” ujar Cucu.

Menurutnya, Situs Singa Prabangsa memiliki peran strategis sebagai kawasan resapan air dan penyangga ekosistem di tengah Kota Banjar. Kerusakan kawasan konservasi tersebut, kata dia, akan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

"Kalau lahan konservasi ini rusak, Kota Banjar juga akan ikut menderita. Banjir, kekeringan, sampai longsor bisa terjadi. Karena itu, kawasan ini harus dijaga bersama, bukan hanya oleh pemerintah, tapi seluruh masyarakat,” tegasnya.

Selain berdimensi ekologis, Gerakan Leuweung Hejo juga dipandang sebagai bagian dari pelestarian budaya. Perwakilan pegiat budaya, Panio, menilai penanaman pohon merupakan wujud nyata menjaga harmoni antara manusia dan alam.

“Melestarikan budaya itu tidak cukup hanya menjaga benda sejarah. Merawat alam, menanam dan menjaga leuweung, adalah bagian dari warisan budaya yang hidup,” ujarnya.

Panio menjelaskan, pemilihan jenis tanaman berupa pohon buah hutan memiliki tujuan ekologis yang lebih luas, termasuk mendukung upaya penyelamatan satwa liar yang habitatnya kian terdegradasi.

“Satwa turun ke pemukiman bukan karena mereka mengganggu manusia, tetapi karena di hutan sudah tidak ada lagi sumber pakan. Dengan menanam pohon buah hutan, kita berusaha mengembalikan ruang hidup mereka,” jelasnya.

Ia menambahkan, gerakan penanaman pohon akan terus dilanjutkan di berbagai situs budaya lain di Kota Banjar yang didominasi pohon-pohon tua dan membutuhkan peremajaan vegetasi.

“Ini bukan pekerjaan sehari. Ini kerja panjang untuk menyelamatkan alam, air, dan kehidupan generasi berikutnya,” pungkasnya.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement