Ikuti Kami :

Disarankan:

KOPRI Tasikmalaya Kecam Konten Kreator Ajak Siswi Jadi Pacar Berbayar

Jumat, 23 Januari 2026 | 17:31 WIB
KOPRI Tasikmalaya Kecam Konten Kreator Ajak Siswi Jadi Pacar Berbayar
KOPRI Tasikmalaya Kecam Konten Kreator Ajak Siswi Jadi Pacar Berbayar.

Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Kota Tasikmalaya mengecam keras beredarnya konten media sosial yang dibuat oleh seorang kreator berinisial SL. Konten tersebut mengajak siswi untuk terlibat dalam pembuatan video dengan iming-iming uang sebesar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu serta kesediaan menjadi “pacar” selama satu jam.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com - Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Kota Tasikmalaya mengecam keras beredarnya konten media sosial yang dibuat oleh seorang kreator berinisial SL. Konten tersebut mengajak siswi untuk terlibat dalam pembuatan video dengan iming-iming uang sebesar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu serta kesediaan menjadi “pacar” selama satu jam.

Konten yang dikemas seolah sebagai hiburan atau gimmick itu dinilai melampaui batas etika dan kepatutan. Dalam tayangan tersebut, ditampilkan interaksi fisik dan emosional seperti bergandengan tangan, disuapi, hingga berkeliling bersama, yang secara nyata menempatkan perempuan, khususnya pelajar, dalam posisi rentan dan tidak setara.

Ketua KOPRI Kota Tasikmalaya, Layla Safitri, menilai konten semacam ini tidak bisa dipandang sekadar upaya mengejar viralitas, melainkan bentuk eksploitasi simbolik terhadap tubuh, perasaan, serta ruang aman perempuan yang dibungkus dengan dalih hiburan.

"Ini bukan konten lucu atau sekadar hiburan. Ini adalah bentuk normalisasi eksploitasi terhadap perempuan dan pelajar. Ketika relasi kuasa antara influencer dan pengikutnya dimanfaatkan, terlebih dengan iming-iming uang, maka persetujuan yang terjadi patut dipertanyakan secara etis dan moral," ungkap Layla, Jumat (23/1/2026) siang.

Layla menegaskan, pelibatan pelajar dalam konten semacam ini berpotensi melanggar prinsip perlindungan anak dan memperkuat budaya objektifikasi perempuan di ruang digital.

"Perempuan bukan objek konten. Pelajar bukan bahan hiburan. Popularitas tidak bisa dijadikan pembenaran untuk merendahkan martabat dan rasa aman perempuan," kata Layla.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement