Ikuti Kami :

Disarankan:

Mengenal Hindia, Musisi yang Menuai Pro-Kontra Jelang Konser Ruang Bermusik Tasikmalaya

Sabtu, 12 Juli 2025 | 19:56 WIB
Mengenal Hindia, Musisi yang Menuai Pro-Kontra Jelang Konser Ruang Bermusik Tasikmalaya
Mengenal Hindia, Musisi yang Menuai Pro-Kontra Jelang Konser Ruang Bermusik Tasikmalaya.

Festival musik Ruang Bermusik yang dijadwalkan digelar pada 19–20 Juli 2025 di Lanud Wiriadinata, Kota Tasikmalaya, masih menuai ketidakpastian. Meski tiket telah habis terjual, izin penyelenggaraan dari Polda Jawa Barat belum diterbitkan.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com — Festival musik Ruang Bermusik yang dijadwalkan digelar pada 19–20 Juli 2025 di Lanud Wiriadinata, Kota Tasikmalaya, masih menuai ketidakpastian. Meski tiket telah habis terjual, izin penyelenggaraan dari Polda Jawa Barat belum diterbitkan.

Selain persoalan administratif, konser ini juga diwarnai penolakan dari Aliansi Aktivis dan Masyarakat Muslim Tasikmalaya (Al-Mumtaz), yang mempersoalkan kehadiran salah satu pengisi acara, Hindia. Kelompok ini menuding musisi tersebut memiliki keterkaitan dengan simbol dan pemahaman yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Lantas, siapa sebenarnya Hindia?

Profil Singkat Hindia

Hindia merupakan nama panggung dari Daniel Baskara Putra, musisi asal Indonesia yang juga dikenal sebagai vokalis band .Feast dan anggota grup musik Lomba Sihir. Baskara memulai debut solonya dengan nama Hindia pada 2018, lewat single "No One Will Find Me". Sejak itu, ia dikenal luas melalui karya-karya musik yang puitis dan sarat makna, membahas isu personal seperti kesehatan mental, relasi sosial, hingga pencarian jati diri.

Nama "Hindia" sendiri terinspirasi dari tulisan "Hindia Belanda" yang ia lihat pada lukisan Raden Saleh saat mengikuti tur sekolah.

Album debutnya, Menari dengan Bayangan (2019), menuai sukses besar dan bahkan melahirkan konser Perayaan Bayangan yang tiketnya ludes terjual. Karya Hindia dikenal tak terikat genre tertentu dan banyak mendapat tempat di hati pendengar musik indie Indonesia. Dalam proses kreatifnya, ia juga kerap berkolaborasi dengan musisi seperti Sal Priadi, Petra Sihombing, dan Rara Sekar. Hindia juga sempat menerima AMI Awards dalam kategori Artis Solo Pria/Wanita Alternatif Terbaik.

Selain aktif bermusik, Baskara juga terlibat dalam pengelolaan label independen Sun Eater, yang membina sejumlah musisi muda.

 

Kontroversi di Tasikmalaya

Namun kehadiran Hindia di panggung Ruang Bermusik 2025 memicu kontroversi. Al-Mumtaz menilai band tersebut membawa simbol dan pemahaman yang berpotensi bertentangan dengan syariat Islam.

"Toh beberapa event di Tasik diselenggarakan dengan mudah, bahkan nanti malam juga ada Wali Band tampil di Tasik. Hanya saja terkait band ini kan ada indikasi band satanic, band yang memang nyerempet pada norma-norma melanggar syariat, dengan pemahaman, simbol-simbol dajjal, bokmet, itu saja yang jadi permasalahan," ujar Ketua Al-Mumtaz, Ustaz Hilmi.

Menanggapi polemik tersebut, Polres Tasikmalaya Kota menggelar forum dengar pendapat pada Sabtu (12/7/2025) di Saung Toncom, yang dihadiri unsur Forkopimda, MUI, PCNU, Muhammadiyah, tokoh agama, organisasi Islam, perwakilan Al-Mumtaz, serta pihak penyelenggara.

Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Moh Faruk Rozi menjelaskan bahwa forum tersebut merupakan rapat keempat yang digelar guna mencari solusi terbaik.

"Hasilnya adalah yang pertama bahwa nanti segala hasil rapat selama 4 kali ini, nanti akan kami sampaikan ke Polda Jawa," ujar AKBP Faruk kepada wartawan.

Ia menegaskan bahwa kewenangan penerbitan izin berada di Polda Jawa Barat, sementara Polres hanya memberikan rekomendasi berdasarkan hasil diskusi bersama unsur masyarakat dan tokoh agama.

"Jadi tidak ada pembicaraan di dalam yang mengatakan bahwa konser tidak boleh. Malah konser didukung oleh alim ulama, oleh lembaga masyarakat seni sekalipun, tetapi dengan memperhatikan masalah regulasi dan kearifan lokal yang selama ini ada di Kota Tasikmalaya, karena Kota Tasik itu termasuk kota santri, kota yang agamis dan religius," tegasnya.

Terkait polemik musisi Hindia, AKBP Faruk kembali menekankan bahwa keputusan akhir tetap berada di Polda Jawa Barat.

"Sekali lagi, itu nanti Polda yang bisa mengizinkan, kita itu hanya sebatas merekomendasikan," ujarnya.

Sikap Al-Mumtaz dan Penyelenggara

Ustaz Hilmi menyampaikan bahwa pihaknya tidak menolak konser musik secara umum, namun menyoroti pentingnya koordinasi dengan para ulama mengenai konten pertunjukan.

"Makanya kalaupun tidak diizinkan Alhamdulillah, kalaupun diizinkan nanti tentu kita atas nama bagian daripada warga Tasikmalaya berlepas diri. Bukan berarti kalau diizinkan kita demo besar-besaran, tidak. Kita hanya memberikan aspirasi, masukan kepada pemerintah, Polres. Toh begini loh band ini," ungkapnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak penyelenggara belum memberikan keterangan resmi mengenai kepastian acara. Mereka menyampaikan bahwa klarifikasi resmi akan disampaikan kepada media dalam waktu dekat.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement