TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya menggelar rapat koordinasi (rakor) bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) terkait penanganan darurat bencana hidrometeorologi, Selasa (18/11/2025) pagi.
Rakor yang dipimpin langsung Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya, Asep Goparulloh, dilaksanakan di Aula RM Sambel Hejo Kecamatan Tamansari dan dihadiri berbagai OPD terkait, para camat, serta kabag. Kegiatan ini digelar menyusul berakhirnya perpanjangan status tanggap darurat bencana yang telah berlangsung hingga 14 November 2025.
Dalam sambutannya, Asep Goparulloh menyampaikan bahwa status tanggap darurat sebelumnya telah diperpanjang satu kali. Ia berharap tidak ada lagi perpanjangan ke depan.
“Kita sudah memperpanjang status tanggap darurat satu kali. Mudah-mudahan tidak memperpanjang lagi, dan mudah-mudahan tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, meskipun kita hanya bisa berdoa,” ujar Asep.
Asep juga menyoroti keterbatasan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) Pemkot Tasikmalaya yang tersisa hanya Rp 50 juta. Ia menyebut, anggaran tersebut kini menjadi tantangan dalam pembiayaan kebutuhan darurat.
“BTT itu bukan hanya untuk bencana, tetapi juga untuk hal-hal mendesak lainnya. Termasuk perbaikan Jembatan Bantargedang yang ambruk dan membutuhkan anggaran besar,” jelasnya.
Asep menambahkan bahwa pihaknya tengah mengupayakan pergeseran anggaran dari program yang tidak terlaksana di tahun 2025. “Sisa anggaran BTT ini semoga bisa dimanfaatkan untuk kedaruratan di BPBD,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya, Ucu Anwar, mengungkapkan bahwa wilayahnya kini masuk pada fase transisi pemulihan setelah dua kali perpanjangan tanggap darurat.
“Kita masuk transisi pemulihan. Kami tetap memberikan layanan kepada masyarakat dan kelompok terdampak bencana hidrometeorologi,” kata Ucu.
Dalam pemaparannya, Ucu menjelaskan bahwa kondisi sungai dan lingkungan yang tidak terawat menjadi salah satu pemicu utama banjir di Kota Tasikmalaya.
“Banyak bangunan berdiri di atas sempadan sungai, dan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan masih rendah,” ujarnya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Ucu menggagas program “sodaqoh” dengan menebar ikan di sungai sebagai pesan moral agar masyarakat lebih peduli terhadap ekosistem air.
“Dengan menabur ikan, kita ingin memberikan pesan bahwa sungai membutuhkan keseimbangan ekosistem,” paparnya.
Ia juga mengajak warga lebih aktif membuat resapan air seperti biopori. Menurutnya, alih fungsi lahan seperti sawah dan kolam menjadi bangunan turut memperparah banjir.
“Kita kehilangan inisiatif membuat resapan air. Semua sudah berubah jadi bangunan,” tegas Ucu.
BPBD mencatat, cuaca ekstrem selama masa tanggap darurat menyebabkan sedikitnya 184 kejadian bencana di Kota Tasikmalaya. Dari jumlah tersebut, 32 kejadian merupakan pohon tumbang dan 52 rumah dilaporkan roboh. “Itu belum ditambah kejadian lainnya,” pungkas Ucu.