Ikuti Kami :

Disarankan:

Tangis di Balik Tebing: Kisah Pilu Bocah 8 Tahun Korban Longsor di Cidugaleun Tasikmalaya

Senin, 04 Agustus 2025 | 13:39 WIB
Tangis di Balik Tebing: Kisah Pilu Bocah 8 Tahun Korban Longsor di Cidugaleun Tasikmalaya
Tangis di Balik Tebing: Kisah Pilu Bocah 8 Tahun Korban Longsor di Cidugaleun Tasikmalaya. Foto: Istimewa

Tak ada yang mengira, Minggu (4/8/2025) malam itu akan menjadi malam terakhir bagi NPS, bocah perempuan berusia 8 tahun, yang selama ini dikenal ceria dan periang.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Malam itu, langit Cigalontang seperti menangis deras. Hujan tak henti mengguyur Desa Cidugaleun, Kabupaten Tasikmalaya sejak sore, menggenangi halaman, mengaliri jalanan kecil kampung, dan diam-diam melunakkan tanah yang berdiri kokoh di belakang rumah keluarga kecil di Kampung Cibulareng.

Tak ada yang mengira, Minggu (4/8/2025) malam itu akan menjadi malam terakhir bagi NPS, bocah perempuan berusia 8 tahun, yang selama ini dikenal ceria dan periang. Ia pergi terlalu cepat, tak sempat menyelamatkan diri saat tebing setinggi tujuh meter di belakang rumahnya tiba-tiba longsor, menerjang dan menghancurkan sebagian rumah yang sedang ia tempati bersama ibu dan dua saudaranya.

Hujan dan Hening yang Dipecah Gemuruh

Sekitar pukul 21.30 WIB, suasana kampung berubah. Suara gemuruh terdengar dari arah belakang. Tanah yang basah dan jenuh oleh air hujan tak mampu lagi menahan beban. Dalam hitungan detik, material longsor meluncur deras seperti air bah, menghantam rumah mereka.

Ibu NPS yang saat itu tengah berada di ruang tengah bersama anak-anaknya tak sempat berbuat banyak. Rumah berguncang, lalu gelap. Jeritan minta tolong menggema di antara guyuran hujan dan tanah yang terus bergerak.

Upaya Penyelamatan di Tengah Gelap dan Dingin

Warga kampung yang mendengar teriakan dan suara longsor segera berdatangan dengan alat seadanya, seperti cangkul, sekop, dan tangan kosong. Di tengah gelap dan dinginnya malam, mereka berusaha menggali material tanah yang menimbun rumah itu.

Setelah beberapa waktu, NPS ditemukan. Ia tergeletak di dekat pintu kamar, dalam posisi tertelungkup, kakinya masih terbalut sarung. Suasana pun mendadak hening. Tak ada suara, hanya tangis menyesakkan dari ibunya yang tak mampu menyentuh tubuh anaknya yang telah tak bernyawa.

Tiga Anggota Keluarga Lain Selamat Tapi Luka

Beruntung, sang ibu dan dua anak lainnya berhasil diselamatkan dari timbunan tanah. Namun luka mereka tak hanya fisik. Sang kakak mengalami luka di bagian kepala, adik NPS luka di kaki, dan ibunya mengalami trauma serta luka ringan. Ketiganya langsung dibawa ke RSUD KHZ Musthafa untuk mendapat perawatan medis.

Menurut Warman, Kepala Seksi Pemerintahan Desa Cidugaleun, ketiga korban masih dalam pengawasan tim medis dan dipastikan selamat. Namun, luka batin mereka jelas tak akan mudah sembuh.

"Korban ditemukan sudah tak bernyawa, di dekat pintu kamar. Pakai sarung, masih kecil, usia 8 tahun," ujar Warman. 

Pemakaman yang Penuh Isak

Keesokan harinya, jasad NPS dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum keluarga, hanya beberapa meter dari rumahnya yang rusak. Prosesi pemakaman berlangsung dalam suasana duka mendalam. Anak-anak sebaya yang biasa bermain bersamanya turut mengantar kepergiannya. 

Mereka memandang ke arah liang lahat dengan mata kosong mungkin belum benar-benar mengerti, bahwa sahabat kecil mereka tak akan kembali lagi.

Pemerintah Turun Tangan, Tapi Duka Terlanjur Mendalam

Camat Cigalontang, Dedi Heriyawan, bersama Forkopimcam langsung melakukan asesmen dan pemantauan ke lokasi. Bantuan darurat mulai dikirimkan. Namun tentu saja, semua itu tak akan bisa menggantikan sosok mungil NPS yang telah tiada.

"Kami terus pantau kondisi korban selamat, semoga segera pulih. Ini jadi pelajaran bahwa kawasan rawan longsor butuh penanganan serius," kata Dedi.

Harapan dari Balik Bencana

Bencana ini tak hanya menyisakan duka bagi satu keluarga, tetapi juga menjadi peringatan keras bagi seluruh wilayah rawan longsor di Tasikmalaya. Relokasi, sistem peringatan dini, hingga edukasi masyarakat soal mitigasi bencana harus segera ditingkatkan.

Namun di balik semua itu, satu hal yang tak akan kembali adalah tawa kecil seorang anak yang biasa berlarian di halaman rumahnya, tertawa lepas tanpa tahu bahwa tanah tempat ia berpijak menyimpan bahaya.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement