Ikuti Kami :

Disarankan:

VIDEO: Dampak Konflik Timur Tengah, Harga Plastik di Pasar Cikurubuk Tasikmalaya Naik hingga 50 Persen

Rabu, 08 April 2026 | 07:31 WIB

Harga berbagai produk plastik di Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Harga berbagai produk plastik di Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan ini diduga kuat dipicu oleh konflik di Timur Tengah yang berdampak pada terganggunya pasokan bahan baku plastik impor.

Pemilik Toko Gudang Plastik di Pasar Cikurubuk, Ellen, mengungkapkan bahwa kenaikan harga sudah sangat terasa dan berdampak langsung pada daya beli konsumen.

“Ada kenaikan, otomatis kemampuan beli menurun. Omzet juga ikut turun. Kenaikan sudah hampir 50 persen, bahkan kami sudah tidak menghitung lagi secara pasti karena terlalu tinggi,” ujarnya saat ditemui di tokonya.

Menurut Ellen, kenaikan harga telah terjadi sejak sebelum Lebaran 2026, tepatnya sekitar akhir Februari. Bahkan, harga kerap berubah dalam waktu singkat.

“Kadang dua sampai tiga hari sekali naik, bahkan dalam sehari bisa dua kali. Intinya kenaikan sudah di atas 50 persen,” jelasnya.

Ia menyebutkan, seluruh jenis plastik mengalami kenaikan tanpa terkecuali. Sebagai contoh, plastik ukuran 14-35-05 yang sebelumnya dijual Rp28 ribu per kilogram kini melonjak menjadi Rp47 ribu. Sementara plastik ukuran 16-10-04 naik dari Rp27.500 menjadi Rp48.800. Untuk gelas plastik isi 50 pcs, harga yang semula Rp7 ribu kini menjadi Rp10.500.

“Semua jenis plastik naik, baik berbahan PE, HD, hingga produk turunan seperti gelas plastik dan rafia. Bahkan kertas nasi yang mengandung plastik juga ikut naik,” tambahnya.

Tak hanya itu, harga bahan baku seperti resin plastik juga mengalami kenaikan. Untuk bahan campuran, kenaikan berkisar 15 hingga 20 persen dari pemasok. Kondisi ini membuat harga di pasaran menjadi tidak stabil.

Meski harga melonjak, aktivitas jual beli masih berlangsung. Namun, konsumen yang biasanya membeli dalam jumlah besar kini mulai mengurangi volume pembelian.

“Pembeli masih ada, tapi sudah tidak berani belanja banyak. Kami juga membatasi penjualan agar stok tetap terjaga dan harga tidak semakin tidak terkendali,” terang Ellen.

Ia berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga, mengingat beberapa produk plastik seperti kantong HD masih menjadi kebutuhan penting masyarakat.

“Harapannya pemerintah bisa menjadi penyeimbang, terutama langsung ke produsen bahan baku. Supaya harga bisa stabil dan masyarakat bisa mengatur keuangan dengan baik,” ungkapnya.

Sementara itu, Owner PT Dollar Super Plastin Tasikmalaya, Lungnajaya Ho atau yang dikenal sebagai Ko Awun, menyebut dampak konflik global sangat terasa di sektor industri plastik, khususnya pada bahan baku.

“Kenaikan biji plastik bisa sampai 100 persen, sedangkan barang jadi naik sekitar 60 persen. Pasar juga mulai sepi karena harga yang tinggi,” katanya.

Ko Awun juga mengkhawatirkan potensi terganggunya produksi akibat keterbatasan pasokan bahan baku. Jika kondisi terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan pabrik harus menghentikan sementara operasionalnya.

“Kami mulai menurunkan produksi karena permintaan juga menurun. Harapannya konflik segera berakhir agar kondisi kembali normal,” pungkasnya.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement