Ikuti Kami :

Disarankan:

Anugerah Budaya ke-9 DKKT: Apresiasi untuk Para Pelaku Seni dan Budaya di Kota Tasikmalaya

Minggu, 09 November 2025 | 12:31 WIB
Watermark
Anugerah Budaya ke-9 DKKT: Apresiasi untuk Para Pelaku Seni dan Budaya di Kota Tasikmalaya. Foto: NewsTasikmalaya.com/Tian K.

Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT) kembali menggelar ajang Anugerah Budaya 2025, yang kali ini berlangsung di Rumah Makan Kampung Swasana, Kecamatan Cihideung, pada Sabtu (8/11/2025) malam. Kegiatan tahunan yang telah digelar selama sembilan tahun berturut-turut itu dibuka langsung oleh Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT) kembali menggelar ajang Anugerah Budaya 2025, yang kali ini berlangsung di Rumah Makan Kampung Swasana, Kecamatan Cihideung, pada Sabtu (8/11/2025) malam. Kegiatan tahunan yang telah digelar selama sembilan tahun berturut-turut itu dibuka langsung oleh Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra.

Anugerah Budaya digelar sebagai bentuk penghargaan bagi para pelaku seni dan budaya yang telah berkontribusi terhadap perkembangan kesenian di Kota Tasikmalaya. Tahun ini juga menjadi momen istimewa karena merupakan acara terakhir di masa kepemimpinan Ketua DKKT, Bode Riswandi, yang telah menjabat selama dua periode.

Dalam malam penghargaan tersebut, dua tokoh utama menerima Anugerah Budaya 2025, yakni Rukmini Yusuf Afandi, pelukis perempuan yang dikenal sebagai “Ibu bagi Para Pelukis Muda Tasikmalaya” sekaligus istri mantan Wali Kota Tasikmalaya, Muhammad Yusuf, serta Teater Dongkrak, kelompok seni yang sejak era 1990-an konsisten menumbuhkan semangat berteater di Tasikmalaya.

Ketua DKKT, Bode Riswandi, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bentuk penghormatan atas perjalanan panjang para seniman daerah.

“Kami mencoba melawan lupa terhadap keadaan. Kami sudah dua periode, 20 tahun berjalan,” ujar Bode.

Ia menambahkan bahwa penghargaan diberikan tidak hanya kepada seniman yang berkarya di daerah, tetapi juga mereka yang mengharumkan nama Tasikmalaya di tingkat nasional maupun internasional.

“Hidup itu pendek, usia itu panjang,” tutup Bode dalam sambutannya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, menilai Anugerah Budaya sebagai langkah penting dalam menjaga identitas lokal di tengah arus globalisasi. Ia menyinggung warisan khas daerah seperti kain bestong, yang kini mulai jarang dikenal oleh masyarakat.

“Produk lain bisa jadi terkenal dari luar, tapi ini yang kita khawatirkan. Bestong khas Kota Tasik, tapi banyak yang tidak tahu apa itu bestong,” kata Diky.

“Anugerah Budaya ini bisa menjaga hal-hal demikian. Ini akan dikenang dan mudah-mudahan bisa diarsipkan supaya orang-orang tahu. Baik buruknya ke depan tergantung pada produk budaya,” sambungnya.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Judi Wahyudin, menekankan pentingnya menjadikan pelaku budaya sebagai profesi yang diakui secara formal dan sejajar dengan bidang keilmuan lain.

“Kebudayaan minimal harus bisa menghidupi para pelakunya. Kami di kementerian siap berkolaborasi, misalnya lewat festival musik etnis di berbagai daerah. Bagaimana caranya Kota Tasik bisa menjemput peluang itu. Rohnya kebudayaan memang gotong-royong,” pungkas Judi.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement