Ikuti Kami :

Disarankan:

Terowongan Kalpataru, Jejak Sejarah Besar dari Desa Neglasari Pancatengah Tasikmalaya

Senin, 25 Agustus 2025 | 09:15 WIB
Terowongan Kalpataru, Jejak Sejarah Besar dari Desa Neglasari Pancatengah Tasikmalaya
Terowongan Kalpataru, Jejak Sejarah Besar dari Desa Neglasari Pancatengah Tasikmalaya.

Desa Neglasari, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya, menyimpan sebuah sejarah besar yang menjadi kebanggaan masyarakat. Salah satu warisan yang masih dapat disaksikan hingga kini adalah Terowongan Kalpataru, sebuah jalur irigasi yang dibangun dengan penuh dedikasi pada era 1970-an.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Desa Neglasari, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya, menyimpan sebuah sejarah besar yang menjadi kebanggaan masyarakat. Salah satu warisan yang masih dapat disaksikan hingga kini adalah Terowongan Kalpataru, sebuah jalur irigasi yang dibangun dengan penuh dedikasi pada era 1970-an.

Terowongan ini diprakarsai oleh almarhum Ir. Abdul Rojak, tokoh kelahiran Tasikmalaya pada 6 Mei 1945. Dengan semangat dan kerja keras, ia menggagas pembangunan terowongan untuk mengalirkan air guna kepentingan pertanian dan pemukiman warga sekitar. Upaya tersebut memberikan manfaat besar bagi kehidupan masyarakat Desa Neglasari.

Proses pembangunan terowongan berlangsung selama enam tahun, melibatkan sekitar 10 hingga 15 pekerja dengan upah Rp250 per hari pada masa itu. Pengerjaan dilakukan dari dua arah yang kemudian bertemu di tengah. Meski terdapat sedikit kelokan akibat perbedaan perhitungan saat penyatuan, terowongan dengan tinggi air sekitar 40 sentimeter ini tetap berfungsi dengan baik hingga kini.

Uniknya, seluruh biaya pembangunan tidak berasal dari pemerintah, melainkan ditanggung langsung oleh Abdul Rojak. Mulai dari kebutuhan material, akomodasi, hingga upah pekerja ia biayai sendiri. Dedikasi inilah yang membuatnya dikenang sebagai sosok berjasa besar bagi warga setempat.

Atas karya monumental tersebut, pada tahun 1987 Presiden Soeharto bersama Megawati Soekarnoputri memberikan penghargaan kepada Abdul Rojak atas terowongan irigasi Kalpataru. Sebagai bentuk penghormatan, namanya pun diabadikan dalam monumen sejarah di Alun-alun Kota Tasikmalaya.

Abdul Rojak wafat pada 17 Januari 2010 dalam usia 64 tahun, dan dimakamkan di atas bukit tempat terowongan Kalpataru berada. Hingga kini, jasanya masih dikenang sebagai teladan semangat pengabdian bagi masyarakat.

 

Artikel ini kiriman dari: Niffal Rizki Fauzi

Disclaimer:

Tulisan ini merupakan kiriman dari pembaca, bukan karya redaksi NewsTasikmalaya.com. Namun, tulisannya dirapikan dan sedikit diperbaiki. Segala bentuk kekeliruan maupun kesalahan isi artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement