Ikuti Kami :

Disarankan:

Tetap Mencanting di Usia Senja, Hj Enok dan Suami Persembahkan Hidupnya untuk Batik Tasikmalaya

Kamis, 02 Oktober 2025 | 14:09 WIB
Watermark
Tetap Mencanting di Usia Senja, Hj Enok dan Suami Persembahkan Hidupnya untuk Batik Tasikmalaya. Foto: NewsTasikmalaya.com/Tian K.

Setiap tanggal 2 Oktober, masyarakat Indonesia merayakan Hari Batik Nasional. Tahun ini, peringatan jatuh pada Kamis (2/10/2025) dengan mengusung tema “Batik Merawit.”

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Setiap tanggal 2 Oktober, masyarakat Indonesia merayakan Hari Batik Nasional. Tahun ini, peringatan jatuh pada Kamis (2/10/2025) dengan mengusung tema “Batik Merawit.”

Batik yang telah diakui UNESCO sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi, kini bukan hanya simbol identitas bangsa, tetapi juga menjadi sumber kehidupan bagi banyak keluarga perajin.

Di Tasikmalaya, semangat melestarikan batik terlihat jelas dari sosok Hj Enok Sukaesih (67) dan suaminya, H Cacu. Pasangan asal Kecamatan Cipedes ini telah lebih dari setengah abad mengabdikan diri pada dunia batik. Hj Enok dikenal sebagai salah satu perajin batik tulis legendaris di kota ini.

Ia mulai membatik pada tahun 1970, tepat setelah menikah. Kala itu, ia belajar langsung dari sang suami.

“Jadi awalnya suami yah yang duluan, saya awalnya tidak menguasai, tapi setelah menikah, saya terjun langsung dan belajar, mulai dari mencanting, mewarna, dan memasakannya,” kenang Hj Enok saat ditemui di tokonya, Kamis siang.

Dari pasar tradisional hingga akhirnya memiliki toko bernama “Agnesa” di Kampung Ciroyom, usaha batik mereka berkembang. Kini, lebih dari 40 pekerja yang sebagian besar adalah tetangga sekitar turut menggantungkan hidup dari karya batik ini.

“Perjalanannya badai, cobaannya sangat banyak, ya untung saja kita masih bisa mempertahankan. Salah satunya karena karyawan, karyawannya tetangga semua,” ujarnya.

Hari Batik Nasional selalu menjadi pengingat bagi Hj Enok tentang kebanggaan terhadap budaya.

“Jadi merasa bangga lah gitu, maknanya kita harus lebih berkarya, kita harus lebih meningkatkan kualitas batik, dan kita harus percaya diri dengan apa yang kita karyakan,” tegasnya.

Namun, ia tak menutup mata bahwa regenerasi perajin menjadi tantangan tersendiri. Meski generasi muda mulai tertarik, untuk batik tulis tetap dirinya yang masih memegang kendali.

“Apalagi di batik tulis masih tetap ibu yang pegang, tapi secara umum mereka udah bisa dan udah tau,” ungkapnya.

Di balik kebanggaan, Hj Enok berharap pemerintah terus hadir mendukung perajin batik agar mampu bersaing dengan produk pabrikan.

“Gak mungkin kita perajin itu berdiri sendiri, kita tetap harus ada bantuan dari pemerintah, terutama mungkin dari kebijakannya, dari pemasarannya, mungkin dengan cara pameran, atau promosi pemerintah tentang batik,” katanya.

Hj Enok dan suami menggarap berbagai jenis batik, mulai dari batik tulis, cap, hingga kombinasi. Ia pun berharap, batik bisa semakin dicintai masyarakat dan dipilih sebagai busana kebanggaan bangsa.

“Semoga batik semakin maju, semakin dicintai, dan perajin batik semakin banyak peminatnya,” pungkasnya.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement