Ikuti Kami :

Disarankan:

Wacana Pengangkatan SPPG Jadi PPPK Tuai Pro Kontra, Rektor IAI Tasikmalaya Soroti Nasib Guru Honorer

Rabu, 21 Januari 2026 | 18:37 WIB
Wacana Pengangkatan SPPG Jadi PPPK Tuai Pro Kontra, Rektor IAI Tasikmalaya Soroti Nasib Guru Honorer
Wacana Pengangkatan SPPG Jadi PPPK Tuai Pro Kontra, Rektor IAI Tasikmalaya Soroti Nasib Guru Honorer.

Wacana pengangkatan pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) menuai pro dan kontra di tengah masyarakat.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com - Wacana pengangkatan pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) menuai pro dan kontra di tengah masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Rektor Institut Agama Islam (IAI) Tasikmalaya, Dr. Ade Zaenul Mutaqin, meminta pemerintah untuk mempertimbangkan dampak kebijakan tersebut secara matang serta memperhatikan rasa keadilan bagi kelompok lain yang telah lama mengabdi.

Ade menilai, kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan gejolak di lapangan, khususnya di kalangan guru honorer yang hingga kini belum mendapatkan kepastian pengangkatan, meski telah mengabdi dalam waktu yang cukup lama.

"Rencana pengangkatan SPPG menjadi PPPK ini seharusnya melihat di sisi lain. Ada guru honorer yang sampai saat ini belum mendapatkan kepastian dalam proses pengangkatan menjadi PPPK, padahal mereka juga mengabdi belasan dan bahkan ada yang puluhan tahun," ujar Ade kepada awak media, Rabu (21/1/2026) siang.

Menurut Ade, baik guru maupun SPPG sama-sama memiliki peran strategis dalam dunia pendidikan. Guru berperan dalam membentuk karakter dan akhlak peserta didik, sementara SPPG berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan gizi siswa sebagai penunjang proses belajar.

"Keduanya memiliki peran yang sama untuk mengabdi kepada negara memajukan dunia pendidikan mencerdaskam bangsa," ungkapnya.

Oleh karena itu, Ade berharap pemerintah dapat bersikap lebih bijak dalam merumuskan kebijakan agar tidak menimbulkan ketimpangan status maupun kecemburuan sosial, serta tidak memperburuk citra dunia pendidikan nasional.

Ia juga menekankan pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan guru dan SPPG secara adil dan profesional.

"Jangan sampai hanya satu pihak saja, kasian mereka (guru), tugasnya banyak," pungkasnya.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement