Ikuti Kami :

Disarankan:

Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra Terima Penghargaan dari Budayawan Jawa Barat

Sabtu, 31 Januari 2026 | 19:19 WIB
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra Terima Penghargaan dari Budayawan Jawa Barat
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra Terima Penghargaan dari Budayawan Jawa Barat. Foto: Istimewa

Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra, menghadiri peringatan Hari Jadi ke-56 Padepokan Pesantren Perguruan Pencak Silat dan Lingkungan Seni Padjajaran Pusat, yang digelar pada Sabtu (31/1/2026).

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra, menghadiri peringatan Hari Jadi ke-56 Padepokan Pesantren Perguruan Pencak Silat dan Lingkungan Seni Padjajaran Pusat, yang digelar pada Sabtu (31/1/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Padepokan Padjajaran Pusat, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya ini juga dirangkaikan dengan acara Tasyakur Milangkala Guru Besar dan Ketua Umum ke-96 Perguruan Padjajaran.

Dalam momen tersebut, Diky Candra menerima penghargaan dari tokoh budayawan Jawa Barat yang diserahkan langsung oleh Guru Besar Padepokan Padjajaran. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam pelestarian budaya dan seni di Jawa Barat, khususnya di Kota Tasikmalaya.

Selain Diky Candra, sejumlah tokoh lainnya juga menerima penghargaan serupa, di antaranya Wakil Bupati Tasikmalaya, musisi sekaligus aktivis lingkungan Uly Sigar, serta penyanyi nasional Paramitha Rusady.

“Alhamdulillah, tentu merasa bangga bisa mendapatkan penghargaan ini, apalagi diberikan langsung oleh tokoh budayawan Jawa Barat,” ujar Diky Candra.

Ia juga mengungkapkan bahwa penghargaan serupa turut diterima oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, sebagai bentuk apresiasi terhadap peran dan komitmen dalam menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.

Lebih lanjut, Diky menyoroti keberadaan sejumlah perguruan pencak silat di daerah lain yang kerap dilanda konflik, bahkan tak jarang memicu pertarungan jalanan antarperguruan.

“Namun di Jawa Barat, Alhamdulillah hal itu tidak terjadi. Salah satunya karena Perguruan Padjajaran ini juga merupakan pondok pesantren dan sanggar seni. Artinya, silat dipahami sebagai bagian dari keindahan. Silat hanya bisa dijalankan dengan ketenangan, dan ketenangan itu lahir dari salat,” jelasnya.

Menurut Diky, Perguruan Padjajaran menjadi contoh perguruan yang mengajarkan pencak silat tidak hanya sebagai bela diri, tetapi juga sebagai sarana pendidikan spiritual dan seni budaya.

“Di sini diajarkan silat, ilmu Allah, serta seni tari. Artinya, semuanya sudah lengkap dan menyatu,” pungkasnya.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement