Ikuti Kami :

Disarankan:

Kritik Krisis Lingkungan, DK3T Siapkan Aksi Ngarumat Hulu Cai di Hari Bumi 2026

Jumat, 17 April 2026 | 13:34 WIB
Kritik Krisis Lingkungan, DK3T Siapkan Aksi Ngarumat Hulu Cai di Hari Bumi 2026
Kritik Krisis Lingkungan, DK3T Siapkan Aksi Ngarumat Hulu Cai di Hari Bumi 2026.

tidak akan sekadar menjadi seremoni belaka. Lewat gerakan bertajuk "Ngarumat Hulu Cai" yang akan digelar di wilayah Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari, Rabu (22/4/2026) mendatang, masyarakat dan budayawan menyuarakan kritik terbuka terhadap kondisi lingkungan yang kian mengkhawatirkan.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Peringatan Hari Bumi 2026 di Kota Tasikmalaya dipastikan tidak akan sekadar menjadi seremoni belaka. Lewat gerakan bertajuk "Ngarumat Hulu Cai" yang akan digelar di wilayah Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari, Rabu (22/4/2026) mendatang, masyarakat dan budayawan menyuarakan kritik terbuka terhadap kondisi lingkungan yang kian mengkhawatirkan.

Fakta di lapangan menunjukkan adanya penurunan kualitas lingkungan yang nyata, mulai dari berkurangnya tutupan vegetasi, melemahnya daya serap tanah, hingga menurunnya debit mata air secara signifikan. Kondisi ini menjadi alarm serius bahwa krisis air di wilayah hilir hanya tinggal menunggu waktu jika kerusakan di hulu tidak segera dihentikan.

Perwakilan Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DK3T), Tatang Pahat, menegaskan bahwa kondisi ini tidak lepas dari persoalan tata kelola lahan yang buruk.

"Krisis ini bukan terjadi tiba-tiba, tapi akumulasi dari pembiaran dan lemahnya komitmen. Alih fungsi lahan yang tidak terkendali serta lemahnya pengawasan kawasan resapan menunjukkan perlunya evaluasi serius dari Pemkot Tasikmalaya dan DPRD," ujar Tatang Pahat, Jumat (17/4/2026) siang.

Tatang mengingatkan kembali pesan leluhur Sunda: "Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak" (Hutan rusak, air habis, manusia sengsara). Menurutnya, peringatan tersebut seolah kalah oleh praktik pembangunan yang belum sepenuhnya berpihak pada keberlanjutan alam.

Masyarakat mendorong pemerintah daerah agar tidak hanya hadir dalam acara simbolik, melainkan mengambil langkah nyata dan terukur melalui kebijakan serta anggaran yang berpihak pada perlindungan kawasan hulu.

"Kegiatan Ngarumat Hulu Cai adalah gerakan moral yang menggabungkan nilai spiritual, kearifan lokal, dan aksi nyata. Kami ingin menghidupkan kembali kesadaran bahwa menjaga sumber air adalah pedoman moral kita bersama," tambahnya.

Rangkaian Budaya dan Aksi Nyata

Acara Ngarumat Hulu Cai ini akan diisi dengan berbagai kegiatan sarat makna, di antaranya:

 * Kirab Budaya: Keliling Kota Tasikmalaya untuk menyuarakan pesan lingkungan.

 * Doa dan Ritual Adat: Sebagai bentuk penghormatan terhadap alam.

 * Aksi Bersih Kawasan: Pembersihan area hulu mata air secara langsung.

 * Ritual Tanam: Penanaman pohon di area resapan air.

 * Pertunjukan Seni: Ekspresi budaya sebagai penguat pesan pelestarian.

Tatang menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab negara sekaligus masyarakat. Ia menutup dengan pepatah Sunda yang mendalam mengenai titipan alam.

"Urang lain nu boga alam, urang ngan saukur nu nginjeum (Kita bukan pemilik alam, kita hanya meminjam). Hari Bumi harus menjadi momentum perubahan. Air bukan sekadar sumber daya, melainkan amanah kehidupan yang harus dijaga bersama," pungkasnya.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement