Ikuti Kami :

Disarankan:

Profil Kabupaten Pangandaran, Permata Ujung Tenggara Jawa Barat yang Kaya Sejarah dan Alam

Minggu, 10 Agustus 2025 | 08:29 WIB
Watermark
Profil Kabupaten Pangandaran, Permata Ujung Tenggara Jawa Barat yang Kaya Sejarah dan Alam. Foto: dok. NewsTasikmalaya.com

Terletak di ujung tenggara Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Pangandaran merupakan daerah yang tidak hanya memikat lewat keindahan alamnya, tetapi juga sarat dengan sejarah dan budaya. Kabupaten ini memiliki ibu kota di Kecamatan Parigi dan mencakup wilayah seluas 1.011,04 km².

PANGANDARAN, NewsTasikmalaya.com – Terletak di ujung tenggara Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Pangandaran merupakan daerah yang tidak hanya memikat lewat keindahan alamnya, tetapi juga sarat dengan sejarah dan budaya. Kabupaten ini memiliki ibu kota di Kecamatan Parigi dan mencakup wilayah seluas 1.011,04 km².

Wilayah ini berbatasan dengan Kabupaten Ciamis di utara, Kabupaten Cilacap (Jawa Tengah) di timur, Samudra Hindia di selatan, dan Kabupaten Tasikmalaya di sebelah barat. Posisi geografis ini menjadikan Pangandaran sebagai penghubung strategis antara Jawa Barat dan Jawa Tengah, serta sebagai destinasi wisata unggulan di pesisir selatan.

Sejarah Pangandaran: Dari Kampung Nelayan Menjadi Kabupaten Mandiri

Asal-usul nama “Pangandaran” memiliki tiga makna penting. Pertama berasal dari kata "andar", yang berarti pelancong dalam bahasa Sunda. Kemudian "andar-andar", yaitu tempat perhentian para pendatang, dan yang ketiga adalah "pangan + daharan", yang berarti tempat mencari penghidupan.

Wilayah ini mulai dihuni oleh para nelayan Sunda yang menemukan lokasi ini ideal karena memiliki tanjung yang menjorok ke laut, meredam gelombang besar Samudra Hindia, dan menjadikan laut tenang untuk melaut. Mereka menetap, membentuk permukiman, dan menyebut tempat tersebut “Pangandaran”.

Nama “Pananjung” juga dikenal dalam cerita rakyat setempat. Pananjung diyakini sebagai wilayah yang “makmur” dan menjadi pusat dari kerajaan kecil yang dipimpin oleh Prabu Anggalarang pada abad ke-14, sejaman dengan Kerajaan Galuh dan Pajajaran. Sayangnya, kerajaan tersebut hancur akibat serangan perompak di masa paceklik.

Perkembangan Wilayah dan Konservasi Alam

Pada masa kolonial Hindia Belanda, Pangandaran termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Sukapura. Kemudian pada 1922, kawasan Pananjung dijadikan taman dengan pelepasan satwa seperti banteng, sapi, dan rusa oleh Residen Priangan, Y. Everen.

Keanekaragaman hayati kawasan ini mendorong status Pananjung berubah menjadi suaka alam dan margasatwa pada 1934, lalu menjadi cagar alam pada 1961 setelah ditemukannya bunga langka Rafflesia patma. Untuk mendukung pariwisata, sebagian kawasan dijadikan Taman Wisata seluas 37,70 ha pada 1978, dan pada 1990 kawasan perairan sekitar juga ditetapkan sebagai cagar alam laut dengan luas 470 ha, menjadikan total kawasan konservasi seluas 1.000 ha.

Kabupaten Termuda di Jawa Barat

Kabupaten Pangandaran resmi berdiri sebagai daerah otonom setelah disahkannya UU Nomor 21 Tahun 2012, dan secara administratif terpisah dari Kabupaten Ciamis. Tanggal 25 Oktober 2012 ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Pangandaran, menjadikannya kabupaten termuda di Jawa Barat.

Pembentukan kabupaten ini merupakan hasil perjuangan panjang masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang lebih optimal dan tata kelola wilayah yang lebih mandiri.

Lambang Daerah dan Identitas Simbolik

Lambang resmi Kabupaten Pangandaran ditetapkan melalui Peraturan Daerah No. 2 Tahun 2015, setelah sebelumnya hanya berupa lambang sementara berdasarkan Perbup No. 4 Tahun 2013. Desain lambang ini memuat berbagai simbol yang mencerminkan kekayaan alam, budaya, dan sejarah daerah, seperti:

·         Perisai biru, simbol perlindungan dan keteguhan

·         Bintang emas, lambang cita-cita luhur

·         Kujang lima lubang, identitas budaya Sunda

·         Gunung dan pohon kelapa, mencerminkan kekayaan alam

·         Rafflesia patma, ikon flora langka

·         Fondasi 25, Benteng 10, dan Gelombang 12, merujuk pada tanggal kemerdekaan dan hari jadi kabupaten

·         Pita dengan semboyan: Jaya Karsa Makarya Praja — berarti kejayaan, kerja keras, dan pembangunan negeri

Lambang ini menjadi simbol persatuan dan semangat warga Pangandaran dalam membangun daerahnya.

 

 

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement